Setiap 20 - 21 Rabi'ul Akhir, digelar peringatan haul wafat seorang ulama besar, Habib Ali bin Muhammad al - Habsyi, di Masjid Ar - Riyadh, Gurawan, Pasar Kliwon, Solo (Surakarta), Jawa tengah. Jangan heran jika pada saat itu Kota Solo seakan disulap menjadi wilayah kekuasaan warga NU. Di sana sini, terutama sekitar Keraton, terlihat kaum berpeci putih dan bersarung, bahkan tak jarang berjubah (thab). Penginapan pun, dari losmen kecil hingga hotel berbintang, penuh dengan mereka. Apalagi masjid dan mushola, seperti Masjid Agung Keraton, Masjid Assegaf di Jl. Kapten Mulyadi, sebelah timurkeraton dan lainnya. Maka, jika anda ingin hadir dan menginap di hotel kelas menengah, anda harus berada di sana sehari sebelumnya. Itupun harus siap - siap kecewa karena sudah penuh.
Habib Ali sendiri hidup di Handramaut Yaman. Dari perkawinannya dengan Habbah Fathimah binti Muhammmad bin Seggaf Mawla Dawilah, lahir empat anak, yaitu Muhammad, Ahmad, Alwy dan Lhadijah. Kalau kemudian Solo tak bisa lepas dari Habib Ali, itu karena puteranya Habib Alwy, tinggal dan akhirnya wafat di sana. Habib Alwylah yang pertama kali menggelar haul sang ayah. Demi mengembangkan dakwahnya, di sana dibangun Masjid Ar - Riyadh pada 1953 (1354H) beserta Ribath / Zawiyah, semacam pesantren dan tempat pengajian Al - La Handramaut.
Sejak itulah Gurawan menjadi magnet tersendiri bagi para Muhibbin sebutan pecinta Habib dan ulama. Sepeninggalan Habib Alwy, tongkat estafet diamanahkan kepada Habib Anis. Disinilah kegiatan - kegiatan keagamaan berpusat. Seminggu sekali di Masjid Ar - Riyadi digelar Mauludan dengan agenda utama pembacaan Maulid Al - Habsyi yang tak lain karangan Habib Ali. Sedangkan tiap bulan malam Jumat manis / Legi - di serambi masjid diadakan pengajian Legian yang sudah berjalan 13 tahunan.
Friday, March 26, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment